Evolusi HP ke managed print services
Ketika krisis global kembali menghantam, hampir semua perusahaan menyetop rencana belanja teknologi informasinyanya. Tahun ini, berbagai rencana yang tertunda itu kembali dihidupkan. Hanya saja, strategi investasi umumnya berubah menjadi lebih ramah lingkungan, efisien, dan terintegrasi.
Salah satu perubahan strategi yang paling menonjol dalam belanja TI saat ini adalah menjamurnya skema komputasi awan (cloud computing). Model 'kalau bisa pakai seperlunya kenapa harus beli semua' itu belakangan tengah gencar-gencarnya digarap kalangan vendor solusi TI.
Di sisi bisnis printer, perubahan pola investasi agaknya juga tengah terjadi. Tentu saja, tuntutan di perkantoran untuk mengadopsi prinsip 'paperless' memberi warna tersendiri dalam bisnis ini. Di sini, isu ancaman global warming dan tuntutan efisiensi bertemu.
"Setelah memangkas anggaran belanja server, sistem, software, sampai ke PC, sebagian besar perusahaan masih terus mencari-cari di pos mana lagi yang dapat ditingkatkan efisiensinya. Dan, pos belanja di sektor printing agaknya belum banyak disentuh," ujar Sandra Ng, Group Vice President, Practice Group, IDC Asia Pasifik ketika berbicara pada forum HP Analyst-Media Regional Meeting di Beijing, China, baru-baru ini.
Selama 2 hari, sesi yang digelar oleh divisi Imaging & Printing Group Hewlett Packard itu secara khusus membahas tren investasi dan model bisnis di sektor printing.
Sebagai salah satu vendor printer terbesar, HP agaknya juga terus mencermati perubahan perilaku sektor korporasi dalam berbelanja printer dan mengelola aktivitas printing.
Dengan semangat 'paperless office', apakah bisnis printer bakal memasuki usia senja
John Solomon, Senior Vice President HP Imaging & Printing Group untuk wilayah Asia Pacific & Japan jusru optimistis bisnis printing bakal terus tumbuh.
Dalam kalkulasinya, dari 2009 hingga 2012 akan terjadi pergeseran besar-besaran pada printing market. Setidaknya ada empat tren utama dalam bisnis ini.
Pertama, terjadinya transformasi dari analog printing ke digital. Kedua, akan terjadi ledakan volume dokumen untuk dicetak, termasuk materi dokumen dalam format warna.
Ketiga, meningkatnya tren pencetakan nirkabel dan secara mobile, seiring dengan meningkatnya fungsi perangkat handheld dan mobilitas kerja. Keempat, terjadinya lonjakan model jasa pengelolaan bisnis printing di perkantoran (managed print services/MPS).
"Sampai 2012, setiap tahunnya akan ada 200 miliar halaman yang akan dicetak secara digital," ujarnya.
Beralih
Dengan tren itu, perusahaan seperti HP akan semakin dituntut untuk tidak lagi mengambil peran sebagai vendor printer, tetapi harus semakin gencar beralih menjadi penyedia jasa.
Dengan konsep itu, perusahaan tidak lagi perlu berbelanja printer sendiri, mengontrol sendiri ketersediaan cartridge, sampai ke kebutuhan kertas untuk kegiatan sehari-hari. Penyedia jasa MPS-lah yang akan mengatur ini semua.
Mulai dari menghitung berapa banyak kebutuhan printer, jenis apa saja, di mana harus diletakkan, sampai mengecek cartridge.
Perusahaan nantinya tinggal membayar jasa berdasarkan berapa halaman yang dicetak selama periode tersebut. Dengan begitu, perusahaan tidak perlu lagi memikirkan investasi printer, baik untuk perawatan maupun penggantian.
Menurut Solomon, dari survei yang dilakukan perusahaan itu, sedikitnya 44% sektor menengah dan kecil (small and medium business/SMB) di kawasan Asia Pasifik telah mengimplementasikan atau menetapkan rencana untuk mengadopsi skema MPS.
MPS memang sudah mulai diperkenalkan HP sejak 2006. Namun, krisis global tampaknya mempercepat pasar menyerap model bisnis tersebut. IDC mencatat sejauh ini HP telah berhasil meraih kontrak besar dalam bisnis jasa pencetakan ini.
Tentu saja, vendor-vendor lain seperti Xerox dan Canon juga tak kalah serius menggarap MPS. Begitulah, evolusi memang mutlak dilakukan kalau tidak mau kalah bersaing. (tri.dp@bisnis.co.id)
Oleh Tri D. Pamenan
Bisnis Indonesia |